Brawijaya
(021)7211337
Oktroi Kemang
(021)71792074
fX Sudirman
(021)25554099
UOB Plaza
(021)29261880
Buah Batu
(022)7308104
Perlukah Deteksi Dini Terhadap Gangguan Perkembangan Anak?
dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH dari Brawijaya Clinic @ Oktroi Plaza Kemang


Proses tumbuh dan berkembang merupakan faktor yang membedakan seorang anak dengan orang dewasa. Proses tumbuh merupakan hasil bertambahnya jumlah dan ukuran sel tubuh sehingga seorang anak akan bertambah berat dan tinggi badannya. Sedangkan perkembangan anak merupakan hasil dari maturasi atau kematangan organ tubuh terutama susunan syaraf pusat.

Perkembangan seorang anak secara umum meliputi perkembangan fungsi motor atau gerak kasar (tengkurap, duduk, berjalan, berlari), gerak halus (meraih benda, memegang, menggunakansendok, menulis), bahasa dan bicara, serta kognitif, emosi, personal sosial dan adaptif. Sebagian besar anak yang memiliki masalah perkembangan, seringkali tidak memperlihatkan gejala yang jelas. Selain itu, adanyavariasi pada kecepatan dan pola batas pencapaian perkembangan menyebabkan gangguan perkembangan pada anak sering tidak terdiagnosis jika hanya menggunakan panduan kasar tahapan perkembangan (developmental milestones) saja.

Data di Amerika Serikat memperlihatkan angka kejadian gangguan perkembangan pada anak adalah sekitar 13 - 15%. Disabilitas intelektual (kecerdasan) merupakan gangguan yang paling sering ditemukan yaitu 1 di antara 83 anak, diikuti oleh autisme yaitu 1 di antara 88 anak. Sedangkan gangguan perkembangan motorik tersering adalah palsi cerebral. Angka kejadian gangguan perkembangan anak di Indonesia secara umum belum tersedia, namun hasil penelitian di Jakarta menunjukkan angka kejadian gangguan perkembangan anak usia di bawah 3 tahun adalah sekitar 14-19.5%.

Mengingat tidak semua kelainan menunjukkan gejala yang jelas, maka deteksi dini perkembangan harus dilakukan pada semua bayi dan balita baik dengan maupun tanpa faktor risiko. Adapun faktor risiko dari gangguan perkembangan pada anak antara lain adalah :

Kelahiran bayi prematur (usia kehamilan kurang dari 37 minggu), berat sewaktu lahir yang rendah (dibawah 2500 gram), dan
riwayat menjalani perawatan intensif setelah kelahiran. Deteksi dini perkembangan anak dilakukan dengan melakukan skrining perkembangan untuk menemukan secara dini ada tidaknya penyimpangan perkembangan pada bayi, balita dan anak prasekolah sehingga anak segera mendapatkan penanganan atau intervensi yang tepat. Deteksi dini dari gangguan perkembangan pada bayi dan balita dapat dilakukan melalui proses :

Anamnesis (wawancara) dengan orang tua atau pengasuh, dilanjutkan pemeriksaan fisik rutin pada bayi dan anak, dan pemeriksaan perkembangan dengan menggunakan alat/instrument skrining perkembangan yang sesuai dengan usia anak serta pemeriksaan lanjutan jika diperlukan skrining perkembangan merupakan pemeriksaan singkat menggunakan alat/instrumen yang telah divalidasi untuk mengetahui adanya penyimpangan dari perkembangan normal. Kegiatan ini merupakan tahapan penting sebelum penegakkan diagnosis kelainan perkembangan. Prosedur skrining awal sebaiknya menggunakan alat skrining yang relative cepat, sederhana, mencakup seluruh ranah perkembangan dan murah. Skrining dilakukan untuk populasi yang terkesan normal, anak normal tetapi mempunyai risiko tinggi gangguan perkembangan, atau dicurigai mempunyai masalah.

Setiap keluhan orangtua mengenai penyimpangan perkembangan anaknya perlu dicatat dan ditindak lanjuti. Selain itu, perlu menanyakan faktor risiko seperti di lingkungan mikro (ibu), mini (lingkungan keluarga dan tempat tinggal), meso (lingkungan tetangga, pelayanan kesehatan dan pendidikan) dan makro (program kesehatan pemerintah). Perlu ditelaah faktor yang dapat mengganggu perkembangan balita atau dapat dioptimalkan untuk mengatasi gangguan tersebut.

Saat ini telah banyak alat skrining perkembangan yang tersedia, baik yang dapat diisi oleh orangtua atau pengasuh, maupun yang harus diisi oleh tenaga profesional yang terlatih. Salah satu alat skrining yang telah disusun dan digunakan secara luas untuk anak Indonesia adalah Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP). KPSP digunakan mulai usia 3 bulan, dilakukan setiap 3 bulan hingga usia 2 tahun, dilanjutkan setiap 6 bulan hingga usia 6 tahun. Kuesioner ini merupakan terjemahan dan modifikasi dari Denver Prescreening Developmental Questionnaire (PDQ). KPSP terdiri atas 10 pertanyaan sesuai usia anak tentang kemampuan perkembangan anak, yang harus diisi (atau dijawab) oleh rangtua. Kuesioner ini melihat perkembangan anak di empat ranah perkembangan yaitu : gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta social dan kemandirian. Penggunaan KPSP cukup singkat dan mudah, yaitu sekitar 10 menit.

Bila terdapat penyimpangan perkembangan, sebaiknya anak segera dibawa ke pusat kesehatan terdekat yang lebih lengkap untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan bila perlu diberikan intervensi atau terapi. Saat melakukan pemeriksaan perkembangan di pusat kesehatan, dokter perlu menggunakan alat skrining perkembangan yang sesuai dan sudah tervalidasi yang memeriksa perkembangan umum, antara lain Denver II, The Clinical Adaptive Test/Clinical Linguistic and Auditory Milestone Scale (CAT/CLAMS), maupun alat skrining yang lebih khusus untuk gangguan tertentu seperti The Modified Checklist for Autism in Toddlers untuk autism dan Conners’ Rating Scales untuk mendeteksi adanya gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas.

Semakin kompleks gangguan perkembangan yang ditemukan maka membutuhkan tim yang lebih lengkap dan intervensi yang komprehensif baik di bidang kesehatan, pendidikan maupun sosial. Intervensi dilakukan untuk mengkoreksi, memperbaiki dan mengatasi masalah atau penyimpangan perkembangan, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya.

Brawijaya Clinic at Oktroi Plaza
Jl. Kemang Utara Raya No.1
Jakarta Selatan 12730
Phone : (021) 71792074 - (021) 71792101