Brawijaya
(021)7211337
Kemang
(021)22717656
UOB Plaza
(021)29261880
Buah Batu
(022)7308104
EKSIM ATOPIK
EKSIM ATOPIK Setiap orang tua tentu menyambut kelahiran buah hatinya dengan penuh suka cita. Apalagi kalau kemudian sang buah hati tumbuh sehat dan menggemaskan. Namun keceriaan orang tua kadang berganti kekhawatiran saat melihat kulit sang bayi penuh dengan ruam (rash) terutama di pipinya. Umumnya orang tua akan berpikir bahwa bayinya menderita eksim susu, atau alergi terhadap makanan yang dikonsumsi ibunya (bila masih ASI ekslusif), atau alergi terhadap susu sapi (bila bayi sudah mendapat susu formula). Akibatnya, semua bahan makanan yang dicurigai menjadi penyebab alergi dihindari. Namun ternyata ruam masih terus saja muncul di kulit sang bayi, bahkan semakin luas. Orang tuapun menjadi bingung, apakah sebenarnya penyebab timbulnya ruam ini? Dan apakah seharusnya makanan-makanan tertentu tetap tidak diberikan? Bagaimana dengan gizi sang anak bila makanan tersebut tidak diberikan?

Ruam yang sering ditemukan pada bagian wajah terutama pipi bayi umumnya adalah Eksim Atopik. Eksim atau bahasa medisnya Dermatitis, adalah peradangan atau inflamasi pada kulit. Kata “atopi” berasal dari bahsa Yunani “atopos” yang artinya “out of place” atau “strange disease”. Dalam bahasa Indonesia atopi diterjemahkan menjadi “berbeda”. Yang dimaksud ”berbeda” adalah sekelompok orang yang dianggap berbeda dengan oran-orang lainnya karena memiliki bakat alergi yang lebih tinggi. Biasanya ditemukan pula riwayat penyakit atopi dalam keluarganya (asma, rinitis alergi, atau eksim atopik).

Eksim atopik ditandai dengan ruam-ruam merah di kulit yang sangat gatal sehingga dapat mengganggu kulitas tidur bayi/anak. Eksim atopik disebabkan oleh banyak faktor (multifaktor) dan bukan penyakit menular. Faktor yang berperan dalam eksim atopik adalah faktor genetik (riwayat atopi dalam keluarga) serta faktor lingkungan. Faktor lingkungan dapat berupa faktor fisik (keringat, liur bayi, panas, sabun, bahan pakaian, kosmetik bayi, dsb), faktor alergen makanan, faktor alergen hirup seperti debu dan tungau debu rumah (house dust mite). Faktor psikis seperti stress, emosi dan sebagainya bukan merupakan faktor penyebab namun dapat memperparah eksim.

Dari semua faktor penyebab diatas, faktor genetik dan faktor fisik memegang peranan terbesar. Sedangkan faktor alergen makanan hanya terbukti pada 10% kasus eksim atopik. Itu sebabnya penghindaran makanan belum tentu dapat meredakan eksim. Mengingat usia 0-3 tahun adalah “golden period” atau periode tumbuh kembang otak yang paling pesat, sebaiknya anak tetap diberikan gizi yang baik untuk menunjang tumbuh kembangnya. Pembatasan makanan hanya dilakukan bila anak benar-benar terbukti menderita alergi makanan tersebut. Tes alergi sebaiknya dilakukan setelah anak berusia 2 tahun, karena pertumbuhan kulit baru sempurna 100% saat anak mencapai usia 2 tahun. Tes alergi yang dilakukan saat anak berusia kurang dari 2 tahun hasilnya kurang reliable dan masih dapat berubah seiiring dengan pertumbuhan kulit sang anak.

Mengingat eksim atopik sangat dipengaruhi faktor genetik, eksim ini tidak dapat “sembuh total”. Pengobatan dan perawatan kulit yang baik diharapkan dapat mengurangi angka kekambuhan eksim. Perawatan kulit yang baik dan benar sebaiknya diajarkan pada anak sejak usia dini, sehingga anak terbiasa merawat kulitnya hingga dewasa kelak. Bila tidak ditangani dengan baik, umumnya eksim akan sering sekali kambuh. Tentu saja hal ini akan sangat mengganggu kualitas hidup anak sebab eksim atopik sangat gatal. Anak akan mengalami gangguan tidur serta gangguan konsentrasi belajar di sekolah.

Presented by dr. Grace N.S Wardhana, SpKK
Dermatologist at Brawijaya Women & Children Hospital