Brawijaya
(021)7211337
Kemang
(021)22717656
UOB Plaza
(021)29261880
Buah Batu
(022)7308104
LEPTOSPIROSIS
WASPADAI ANCAMAN PENYAKIT LEPTOSPIROSIS DI MUSIM PENGHUJAN Memasuki musim penghujan, dimana tanah menjadi basah, udara menjadi lembab, hujan yang terus menerus sepanjang hari menyebabkan beberapa daerah terkena banjir.Dalam kondisi seperti itu banyak bakteri yang berkembang dan tumbuh sehingga di musim hujan beberapa penyakit infeksi kerap menyerang.Salah satu penyakit yang harus diwaspadai dikala banjir adalah Penyakit Leptospirosis. Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira (bakteri berbentuk spiral yang mempunyai ratusan serotipe) yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis).  Penyakit Leptospirosis pertama kali dilaporkan pada tahun 1886 oleh Adolf Weil sehingga disebut sebagai Weil's Disease.Leptospirosisjuga dikenal dengan nama  Demam Icterohemorrhage, demam pesawah (Ricefield fever) atau demam banjir, demam lumpur, penyakit kuning non virus, penyakit Stuttgart, penyakit Swineherd dan beberapa nama lainnya.

International Leptospirosis Societymenyatakan bahwa Indonesia sebagai negara dengan Leptospirosis yang tinggi. Sepanjang 2010 terdapat 8 provinsi yang melaporkan kasus suspek Leptospirosis, diantaranya, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bengkulu, Kepulauan Riau dan Sulawesi Selatan.Angka kematian Leptospirosis di Indonesia termasuk tinggi, bisa mencapai 2,50 – 16,45 % (rata-rata 7,1 %). Pada usia lebih dari 50 tahun bisa mencapai 56%.Di beberapa publikasi angka kematian dilaporkan antara 3 persen - 54 persen tergantung sistem organ yang terinfeksi.

Bagaimana Penyakit LeptospirosisIni Menular?

Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia, penularan Leptospirosis paling sering melalui hewan tikus. Air kencing tikus yang terbawa banjir kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata atau hidung.

Urin tikus yang mengandung bibit penyakit leptospirosis juga dapat mencemari air di kamar mandi,makanan atau minuman yang tidak disimpan pada tempat yang amanbisa terkontaminasi setitik urin tikus yang terinfeksi leptospira, kemudian dimakan dan diminum oleh manusia. Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama penyebab leptospirosis. Beberapa jenis hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang leptospirosis, tetapi potensi hewan-hewan ini menularkan leptospirosis ke manusia tidak sehebat tikus.

Bagimana GejalaLeptospirosis?

Masa inkubasi leptospirosis (masa mulai terinfeksi sampai pada timbulnya gejala pertama)  adalah 2 hingga 26 hari.Setelah terkena infeksi, seseorang biasanya akan menderita gejala mirip flu selama kurang lebih 4-7 hari.

Gejala Awal Leptospirosis:

Demam tinggi, menggigil
• Sakit kepala
• Sakit tenggorok
• Batuk
• Malaise (lesu/lemah)
• Muntah sampai diare
• Konjungtivitis (radang mata)
• Rasa nyeri otot terutama pada bagian betis dan punggung
• Takut cahaya

Bila tidak segera mendapatkan pengobatan, Leptospirosis dapat mengakibatkan:

• Muntah darah
• Gagal ginjal
• Meningitis (peradangan pada membran di sekitar otak dan saraf tulang belakang)
• Gagal hati
• Kesulitan bernapas (nyeri dada dan sesak nafas)

Apakah Pengidap Leptospirosis Dapat Menulari Orang Lain?

Leptospirosis dapat ditularkan kepada orang lain, misalnya penularan lewat kelamin atau air susu ibu, meskipun jarang. Kuman Leptospira dapat ditularkan lewat air seni selama berbulan-bulan setelah terkena.

Apakah Ada Vaksinnya?

Bagi manusia belum ada vaksin untuk melawan Leptospirosis.Vaksin guna mencegah Leptospirosis baru pada hewan tetapi hewan yang sudah diberi vaksin pun masih rentan terhadap jenis lainnya yang tidak tercakup dalam vaksin yang diberikan.

Apakah Seseorang Bisa Tertular Leptospirosis Lebih Dari Sekali?

Karena terdapat banyak jenis kuman leptospira yang berlainan, mungkin saja seorang terkena jenis yang lain dan mendapat Leptospirosis lagi.

Bagaimana  Cara Mencegah Tertular Leptospirosis?

• Membiasakan diri untuk berlaku hidup sehat, pastikan tubuh mendapat istirahat yang cukup paling tidak 8 jam sehari
• Memperbanyak makanan yang mengandung protein, seperti daging, susu dan keju
• Konsumsi buah-buahan dan sayuran yang cukup, dan  bila perlu konsumsi suplemen atau multivitamin  yang dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh
• Simpan makanan dan minuman  di tempat yang aman dan bersih agar terhindar dari hewan-hewan yang berpotensi menularkan penyakit leptospirosis
• Biasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, selepas bekerja, sehabis memegang hewan, sehabis membersihkan rumah, sehabis membersihkan dapur dan tempat-tempat kotor, karena kuman Leptospira cepat mati oleh sabun, pembasmi kuman dan jika tangannya kering
• Sebelum minum atau membuka makanan kalengan, pastikan anda membasuh/membilas penutupnya terlebih dahulu, untuk menjaga kemungkinan dijangkiti bakteria leptospira. Makanan kalengan mungkin saja terkena urin hewan pembawa bakteri leptospira ketika masih tersimpan dalam gudang toko
• Menghindari atau mengurangi kontak dengan hewan yang berpotensi terkena paparan air atau lahan yang dicemari kuman
• Pakailah pakaian pelindung, seperti sarung tangan, masker, kaca mata, sepatu boot, ketika bekerja di tempat kotor, pada saat banjir atau pada saat menangani hewan
• Membersihkan tempat air dan kolam renang secara rutin
• Jika mengalami luka atau lecet, tutupilah dengan pembalut luka kedap air terutama sebelum bersentuhan dengan tanah, lumpur atau air yang mungkin dicemari air seni binatang
• Pakailah sepatu bila keluar terutama jika tanahnya basah atau berlumpur
• Hindari adanya tikus didalam rumah atau gedung
• Perhatikan secara ketat kebersihan dan sanitasi lingkungan
• Pastikan Hewan peliharaan mendapatkan vaksin, dan periksakan kesehatan hewan peliharaan ke dokter hewan secara rutin

Sebaiknya selalu waspada dengan penyakit ini, karena dampak dan akibatnya masih menjadi permasalahan penyakit di Indonesia saat ini.Jadi apabila ada keluarga atau orang di dekat kita mengalami tanda-tanda seperti diatas segera konsultasikan ke dokter.Semoga artikel ini dapat membantu.


Penyaji:

dr. Prasna Pramita, SpPD, MARS,FINASIM
(Dokter Spesialis Penyakit Dalam @ BWCH)


Referensi
1. The Leptospirosis Information Center. 17 Januari 2009. http://www.leptospirosis.org/topic.php?t = 26&f = 25. Diakses pada 12 April 2010.
2. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing (edisi ke-1). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 188-192. ISBN 979-420-611-3.
3. Faktor-Faktor Risiko Yang Berpengaruh Terhadap Kejadian Leptospirosis (Studi Kasus di Kabupaten Demak)"] (PDF). Program Magister Epidemiologi Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/6320/1/Agus_Priyanto.pdf. Diakses pada 15 April 2010.
4. The Leptospirosis Information Center. 17 Januari 2009. http://www.leptospirosis.org/topic.php?t=25. Diakses pada 12 April 2010.
5. "Leptospirosis". Directors of health Promotion and Education. http://www.dhpe.org/infect/Lepto.html. Diakses pada 15 April 2010.
6. "Water Related Diseases: Leptospirosis". World Health Organization. http://www.who.int/water_sanitation_health/diseases/leptospirosis/en/. Diakses pada 15 April 2010.
7. Hatta M (Maret 2002). "Detection of IgM to Leptospira Agent with ELISA ang Leptodipstick Method". Jurnal Kedokteran dan Kesehatan FK Universitas Tarumanegara1.
8. Bovet P (1999). "Factor Assosiated with Clinical Leptospirosis, A Population Based Control Study in Seychelles". American Journal Tropical Medicine and Hygiene: 583-590.
9. Widarso HS dan Wilfried (2002). "Kebijaksanaan Departemen Kesehatan dalam Penanggulangan Leptospirosis di Indonesia". Kumpulan Makalah Simposium Leptospirosis, Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
10. Esen Saban (2004). "Impact of Clinical and Laboratory Findings on Prognosis in Leptospirosis". Swiss Medical Weekly: 347-352.
11. A. Ebrahimi, L. Alijani, G R Abdollahpour (June 2003). "Serological Survey of Human Leptospirosis in tribal Areas of West Central Iran" (dalam bahasa English) (PDF). IJMS. 2 28. http://ijms.sums.ac.ir/files/PDFfiles/28_2_11-Ebrahimi.pdf. Diakses pada 17 April 2010.
12. Stoddard, Robyn (2009-07-27). "Other Infectious Diseases Related to Travel: Leptospirosis". Centers for Disease Control and Prevention. http://wwwnc.cdc.gov/travel/yellowbook/2010/chapter-5/leptospirosis.aspx. Diakses pada 17 April 2010.
13. Eldredge, Debra M. "1". di dalam Beth Adelman (dalam bahasa English). Dog owner’s Home Veterinary Handbook (edisi ke-4th). Hoboken: Willey Publishing Inc. hlm. 66-67, 96. ISBN 978-0-470-06785-7.