Brawijaya
(021)7211337
Kemang
(021)22717656
UOB Plaza
(021)29261880
Buah Batu
(022)7308104
PUASA DAN DIABETES
PUASA RAMADHAN DAN PENDERITA DIABETES MELLITUS Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu penyakit kronik yang tidak dapat sembuh, tetapi jika kadar gula darah dapat terkendali diharapkan dapat terhindar dari komplikasi DM akut maupun kronik.
Perubahan Metabolik pada Waktu Puasa
 
Dalam keadaan normal, gula darah dipertahankan sekitar antara 60-126 mg%. Gula darah dipakai sebagai sumber energi bagi organ-organ penting seperti : otak, jaringan syaraf dan sel-sel darah. Organ tersebut tidak mempunyai cadangan energi sehingga dalam keadaan puasa untuk untuk mempertahankan kadar gula tersebut  terjadi pemecahan glikogen hati menjadi glukosa. Glikogen hati ini dapat menjadi sumber glukosa darah untuk kebutuhan otak selama 12-16 jam. dengan demikian puasa yang hanya sekitar 12 jam tidak terlalu mengganggu kesehatan pada orang sehat maupun penderita DM yang kadar gulanya terkontrol.
 
Kelompok I
DM yang kadar gulanya terkontrol dengan perencanaan makan dan olah raga
 
Kelompok II
DM yang disamping melaksanakan perencanaan makan dan olah raga juga memerlukan obat hipoglikemik oral (OHO) untuk mengontrol kadar gula darahnya. Kelompok ini dibagi menjadi dua bagian :
II.A Membutuhkan dosis tunggal dan kecil.
II.B Membutuhkan OHO dengan dosis lebih tinggi dan terbagi.
 
Kelompok III
DM yang membutuhkan perencanaan makan dan olah raga serta membutuhkan / tergantung insulin. Kelompok ini terbagi lagi menjadi 2 bagian :
III.A Membutuhkan insulin 1x sehari
III.B Membutuhkan insulin 2x sehari atau lebih
 
Syarat Berpuasa Bagi DM
 
Sasaran pengobatan DM adalah menurunkan kadar gula darah senormal mungkin, menurunkan kadar lemak darah dan mencapai berat badan ideal. Bila ini tercapai tentunya gejala - gejala diabetes akan berkurang dan akan mencegah komplikasi DM. Sebaiknya sebelum berpuasa kadar gula darah sudah terkendali yaitu kadar gula darah puasa kurang dari 126mg% dan kadar gula darah 2 jam sesudah makan kurang dari 160mg%.
 
Petunjuk Berpuasa Bagi DM Kelompok I
 
1. Jumlah asupan kalori selama bulan puasa kira-kira sama dengan sehari-hari yang dianjurkan sebelum puasa, Pembagian porsi makan sebagai berikut : 40 % dikonsumsi waktu sahur, 50% waktu dikonsumsi waktu berbuka dan 10% sebelum tidur.
2. Makan sahur sebaiknya dilambatkan (semakin dekat waktu imsak)
3. Lakukan aktifitas fisik sehari-hari seperti biasa dan dianjurkan istirahat sebentar setelah dzuhur.
 
Petunjuk Berpuasa Bagi DM Kelompok II
 
Untuk kelompok IIA dan IIB dapat berpuasa dengan melakukan perubahan dalam perencanaan makan, aktifitas fisik dan pengobatan.
1. Kelompok IIA, merubah jadwal minum obat yang biasa diminum pagi hari diubah menjadi di waktu berbuka puasa.
2. Kelompok IIB, dosis obat yang biasa dikonsumsi pagi hari diubah menjadi waktu berbuka puasa, dan dosis sore diubah menjadi waktu sahur. Untuk menghindari hipoglikemi saat menjelang buka puasa, dosis OHO sahur dikurangi separuhnya.
 
Petunjuk Berpuasa Bagi DM Kelompok III
 
Walaupun kelompok DM 3 tidak dianjurkan puasa karena kadar gula darahnya tidak stabil sehingga mudah menjadi komplikasi ketosis ataupun hipoglikemia, namun bagi yang bermotivasi kuat dapat melakukannya dengan pemantauan kadar gula darah yang baik dibawah pengawasan dokter.
 
Demikian juga DM dengan komplikasi berat seperti gagal ginjal atau gagal jantung, sebaiknya tidak berpuasa karena akan memperberat komplikasi yang sudah terjadi.
 
Pemantauan Kadar Glukosa Darah
 
Pemantauan kadar gula darah dapat dilakukan dengan uji strip dengan atau tanpa glukometer. Pengendalian diabetes yang baik diperlukan untuk mencegah komplikasi DM baik akut maupun kronik.
Kadar gula yang terlalu tinggi (Hiperglikemia) atau terlalu rendah (Hipoglikemia) harus dihindari baik sehari - hari maupun selama puasa.
 
Hipoglikemia harus dihindari terutama pada DM usia lanjut karena dapat mengakibatkan komplikasi fatal dan biasanya terjadi saat berpuasa terutama menjelang buka puasa dengan gejala : gelisah dan berkeringat, gemetar, berdebar-debar, semutan pada lidah dan bibir, penglihatan ganda dan bingung. Bila dibiarkan 
berlanjut akan terjadi penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
 
dr. Chaidir Aulia, SpPD, KGEH
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Brawijaya Women & Children Hospital