Brawijaya
(021)7211337
Kemang
(021)22717656
UOB Plaza
(021)29261880
Buah Batu
(022)7308104
TAKING CONTROL
TAKING CONTROL Berdasarkan hasil riset yang diadakan Asia Pacific Council on Contraception bahwa 30% responden di Asia mendapat informasi yang salah tentang kontrasepsi. Pasalnya perkembangan serta kemajuan berbagai bentuk metode kontrasepsi mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya angaka natalitas di benua Asia.
Menurut dr. Diana Mauria, SpOG masih banyak sekali berbagai mitos dan opini simpang siur yang beredar di kalangan wanita Indonesia, tidak terkecuali wanita perkotaan yang memiliki akses lebih dekat terhadap sumber informasi.
Sesuai dengan hasil riset bahwa 3 dari 100 wanita mendapat informasi yang tidak akurat, dimana pada kebanyakan kasus, informasi terbesar tercipta dari rangkaian ‘word of mouth” yang tercipta di sekeliling lingkungan. Melihat fenomena tersebut maka akurasi informasi seputar kontrasepsi sangat dibutuhkan untuk menetapkan pilihan.

JENIS KONTRASEPSI

KONTRASEPSI NON-HORMONAL

1.Kontrasepsi Sterilisasi

Di Indonesia, metode ini memiliki persentase pengguna terkecil dibandingkan dengan jumlah persentase pengguna metode lainnya, mengingat tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya kehamilan secara permanen. Proses sterilisasi ini harus dilakukan oleh dokter kandungan, melalui uoaya peningkatan sel indung telur pada wanita (tubektomi) atau testis pada pria (vasektomi)

2.Kontrasepsi Teknik

Metode Lactational Amenorrhea Method (LAM), atau lebih dikenal sebagai metode menyusui dan metode kalender digolongkan sebagai jenis kontrasepsi teknik. Kedua metode tersebut tidak memiliki kadar akurasi yang tinggi, sehingga banyak terdapat kegagalan kasus dalam penggunaan metode tersebut. Metode LAM hanya dapat berfungsi dalam masa pemberian ASI eksklusif (tanpa asupan makanan tambahan apapun pada bayi selama empat bulan pertama pasca melahirkan, dan akan berakhir ketika periode menstruasi dimulai, sedangkan faktor kegagalan pada metode kalender umumnya terletak pada kesalahan menghitung masa subur (saat ovulasi) atau siklus menstruasi yang tidak teratur, sehingga perhitungan tidak akurat.

3.Kontrasepsi Mekanik

IUD (Intra Uterine Device)
Lebih dikenal dengan nama spiral, terbuat dari bahan polyethylene yang diberi lilitan logam (umumnya tembaga) dan dipasang di area mulut rahim. Efektivitasnya berkisar antara 92% - 94%.

Keutungan:
Selain memiliki tingkat efektifitas yang cukup tinggi, teknik IUD dapat digunakan pada semua wanita usia reproduksi, selain itu, beberapa wanita pun merasa diuntungkan karena tidak harus berinteraksi lagi dengan konsumsi obat-obatan.
Keterbatasan
Karena penempatannya yang dilakukan di dalam organ tubuh, Anda diwajibkan untuk melakukan pemeriksaan secara berkala, karena terdapat potensi translokasi (berpindah tempat), hingga infeksi radang panggul akibat infeksi. Pertambahan volume darah pada sat menstruasi juga menjadi gejala umum yang ditemukan selama penggunaan berlangsung.

IUS (Intra Uterine System)
Merupakan variasi terbaru dari metode IUD, dengan penggunaan hormone progesterone sebagai pengganti logam. Cara kerjanya sama dengan metode IUD, namun ditambah dengan beberapa nilai plus seperti berkurangnya rasa nyeri dan volume darah pada periode menstruasi.

Vaginal Diafragma
Berupa lingkaran cincin dilapisi karet fleksibel yang akan menutuo mulut rahim bila dipasang dalam vagina salama enam jam sebelum hubungan seksual dilakukan. Efektifitasnya sangat kecil, karena itu harus digunakan bersama spermatisida bahan kimia aktif untuk ‘membunuh’ sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu yang harus dimasukkan ke dalam vagina lima (menit sebelum hubungn seksual) untuk mencapai efektivitas sehingga 80%.

Keuntungan:
Jika penempatannya dilakukan dengan tepat, metode diafragma memiliki nilai efektivitas yang setara dengan penggunaan kondom (2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun).
Keterbatasan:
Penempatannya harus dilakukan jauh sebelum hubungan seksual berlangung, dan beberapa wanita dihadapkan pada kemungkinan reaksi alergi.

KONTRASEPSI HORMONAL

Kontrasepsi hormonal dapat berupa kontrasepsi oral yang diminum sesuai petunjuk hitungan hari yang ada pada setiap blister, suntikan, ataupun implant yang ditanam untuk periode teretntu.

1.Pil Kontrasepsi Kombinasi (OC / Oral Contraception)

Berupa kombinasi dosis rendah estrogen dan progesterone. Merupakan metode kontrasepsi yang paling efektif karena bekerja dengan beberapa cara sekaligus, yaitu mencegah ovulasi (pematangan dan pelepasan sel telur), meningkatkan kekentalan lender leher rahim sehingga menghalangi masuknya sperma, dan membuat dinding rongga rahim tidak siap menerima hasil pembuahan.

Keuntungan:
Selain berfungsi sebagai alat kontrasepsi, banyak wanita merasa diuntungkan oleh potensinya untuk nmengurangi penampakkan jerawat. Selain itu, kesuburan akan kembali datang begitu pemakaian pil dihentikan.
Keterbatasan:
Metode ini membutuhkan disiplin yang sangat tinggi dalam proses konsumsinya, karena Anda harus melakukan penempatan waktu secara berkala dalam proses konsumsi. Rasa mual pada tiga bulan pertama juga kerap dirasakan oleh sebagian wanita yang menggunakan metode ini.

2.Suntikan Kombinasi

Tersedia dalam bentuk suntikan satu bulan (estrogen + progesterone) dan tiga bulan (depot progesterone, tidak terjadi menstruasi). Memiliki efektivitas 0,1 – 0,4 per 100 wanita per tahun.

Keuntungan:
Selain efektivitasnya yang dapat bertahan lama, metode ini telah terbukti dapat diberikan pada wanita usia perimenopause (masa transisi menuju menopause) tanpa menggangu metabolisme tubuh.

Keterbatasan:
Pada sepuluh hari pertama, Anda akan dihadapkan oleh potensi pendarahan bercak, dan bagi Anda yang menginginkan pemulihan kesuburan seketika, disarankan untuk menghindari metode ini, karena terjadinya keterlambatan pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.

3.Kontrasepsi Implan

Cara kerjanya adalah dengan mengganggu proses pembentukan endrometrium, dan mengurangi transportasi sperma serta menekan masa ovulasi. Efektifitasnya cukup tinggi, yaitu 0.2-1 kehamilan per 100 wanita per tahun.

Keuntungan:
Berbagai penelitian telah membuktikan kemampuan metode ini untuk mengurangi potensi terjadinya kanker endometrium dan penyakit radang panggul.
Keterbatasan:
Proses pemasangan dan pencabutan metode ini bersifat kurang praktis, mengingat diperlukannya tindakan pembedahan minor (bedah local), dan penggunaanya secara terus-menerus akan menimbulkan berbagai keluhan pada kesehatan, seperti sakit kepala, nyeri payudara dan rasa mual.

Validitas informasi keberadaan ragam kontrasepsi tersebut harus dilandasi oleh keinginan yang jelas, apakah untuk menunda kelahiran anak pertama (postponing), menjarangkan anak (spacing), ataupun membatasi jumlah anak yang diinginkan (limiting).
Pilihan yang didasarkan oleh informasi yang memadai akan membantu untuk menghasilkan pilihan metode yang paling bersifat rasional. Keragaman teknologi yang tersedia hanya ditujukan sebagai jalan pintas yang dapat mempermudah proses pelaksanaan, dan pada akhirnya, semua berkahir pada preferensi personal yang dilandasi oleh rasa nyaman bagi setiap wanita.


Narasumber :
dr. Diana Mauria, SpOG
Brawijaya Women & Children Hospital