Menjemur Bayi Baru lahir – it's a Must?

Upload by sadmin, 27 Februari 2020 | 09:34

Di Indonesia, menjemur bayi merupakan hal yang biasanya dianjurkan kepada seluruh orang tua saat memiliki bayi baru lahir. Bayi dijemur di bawah sinar matahari pagi, dibuka bajunya dan dibolak-balikkan badannya sudah menjadi tradisi hampir semua keluarga. Sebenarnya perlukah hal ini dilakukan ?

Tradisi menjemur bayi dipercaya dapat mencegah atau mengurangi penyakit kuning pada bayi.  Akan tetapi, pada kenyataannya, hal ini sama sekali tidak terbukti. Kuning pada bayi disebabkan oleh tingginya kadar bilirubin darah akibat hati bayi yang belum mampu membuang bilirubin tersebut dengan baik. Jika melebihi nilai normal, kadar biliribin dapat diturunkan dengan phototherapy (terapi sinar). Phototherapy tidak dapat disamakan dengan menjemur bayi di bawah sinar matahari. Hal ini disebabkan karena kadar ultraviolet pada sinar matahari tidak dapat terukur (sangat bergantung letak geografis, waktu dan musim) dan berpotensi dapat menyebabkan kanker kulit.

WHO (2019) menyebutkan bahwa sinar ultraviolet merupakan salah satu penyebab utama kanker kulit (karsinogen). Sinar ultraviolet dibagi menjadi dua, yaitu UVA dan  UVB. UVA merupakan penyebab photoaging (keriput dan belang) dan UVB merupakan penyebab sunburn. Kedua jenis UV ini berhubungan erat dengan kejadian kanker kulit. Oleh sebab itu, menjemur bayi secara langsung dibawah sinar matahari menyebabkan paparan UVA dan UVB, sehingga dapat berisiko terkena kanker kulit di kemudian hari. Semakin dini usia saat dimulai paparan sinar matahari, ternyata lebih berperan daripada total paparan sinar matahari selama kehidupan dalam meningkatkan risiko kejadian kanker kulit, Oleh karena itu, perlindungan terhadap sinar matahari sangatlah penting terutama sejak bayi.

Lalu, bagaimana dengan vitamin D yang dapat diperoleh dari sinar matahari? Tidak dapat dipungkiri bahwa memang sinar matahari sangat penting untuk sintesis vitamin D. Vitamin D dapat diperoleh manusia dari paparan sinar matahari, makanan dan juga suplementasi. Vitamin D sangatlah penting untuk pertumbuhan normal dan perkembangan tulang. Sensible sun exposure yang dianjurkan untuk menjaga konsentrasi vitamin D yang cukup dan mencegah defisiensi dalam tubuh, adalah paparan kedua tangan dan kaki terhadap sinar matahari selama 5-30 menit, (tergantung waktu, musim, garis lintang dan pigmentasi kulit) antara pukul 10 pagi dan 4 sore, sebanyak 2 kali sehari.

Jadi, perlukah menjemur bayi di pagi hari? Bahaya atau tidak? Melihat bahayanya risiko kanker kulit akibat paparan sinar matahari dibandingkan dengan pentingnya vitamin D bagi pertumbuhan bayi, maka menjemur bayi sebenarnya boleh dilakukan, namun dengan catatan khusus. Rekomendasi dari AAP (American Academy of Pediatrics, 2011) antara lain :

1. Hindari sinar matahari pukul 10 pagi hingga 4 sore (kandungan UVB paling tinggi di waktu ini, sehingga sintesis vitamin D sangat baik, namun risiko kanker kulit justru meningkat)

2. Menggunakan pakaian yang menutup seluruh tubuh, serta topi dan tabir surya untuk melindungi dari paparan langsung sinar matahari

3. Menggunakan tabir surya dengan SPF 15 atau lebih, dan dapat diulangi tiap 2 jam. Terkecuali untuk bayi prematur, pemakaian tabir surya tidak direkomendasikan karena kulitnya yang masih sangat tipis.

4. Paparan sinar matahari langsung harus dihindari bagi bayi berusia kurang dari 6 bulan dan bayi harus selalu menggunakan pakaian dan topi untuk melindungi kulit. Orangtua boleh memberikan tabir surya saat sinar matahari tidak bisa dihindari dan hanya diberikan pada kulit yang terpapar saja.

5. Selalu awasi tanda-tanda sunburn, ditandai dengan kulit kemerahan dan terasa panas. Jika muncul, segera hubungi dokter.

Jadi, yang perlu diingat adalah tidak perlu berlama-lama menjemur bayi. Apalagi, sampai menelanjangi dan membolak-balikkan badan bayi kita di bawah sinar matahari langsung, ya!!

 

Oleh : dr. Nadia Qoriah Firdausy, M.Sc, SpA

 

Referensi :

1. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/menjemur-bayi-dengan-tepat

2. American Academy of Pediatrics, Council on Environmental Health and Section on Dermatology. Policy Statement - Ultraviolet Radiation: A Hazard to Children and Adolescents. Pediatrics. 2011;127:588-97.

3. Long, M. Sun Exposure. Pediatrics in review. 2017;38:446.